#ChizenTalk: Is Literacy Just All About Reading Books?
Source: Edutopia
Saat masih kecil, kita diajari bahwa untuk menjadi pintar kita harus rajin membaca buku dan untuk menjadi seseorang yang berguna kita harus menjadikan membaca sebagai hobi. Kemudian, istilah literasi muncul dan mulai populer digunakan untuk menggambarkan aktivitas yang berkaitan dengan membaca. Tapi, apakah literasi hanya soal kemampuan membaca? Apakah seseorang yang rajin membaca bisa serta-merta menyebut diri mereka sebagai literat?
Di era yang serba cepat dan modern ini, seseorang dapat terpapar banyak sekali informasi dalam berbagai bentuk, termasuk teks, gambar, video, dan audio. Sehingga munculah istilah literasi digital. Meskipun begitu, banyaknya informasi yang mengalir kepada para pengguna internet dapat mengakibatkan information overload, yaitu kondisi ketika seseorang menerima terlalu banyak informasi sehingga kesulitan dalam memproses dan memahaminya secara efektif. Kondisi ini dapat menyebabkan kebingungan, kesulitan mengambil keputusan, bahkan stres hingga kecemasan. Membahas literasi dan segala jenisnya memang tidak akan ada habisnya. Sebelum kita membahas literasi secara detail, yuk kita pahami terlebih dahulu apa itu literasi dan jenis-jenisnya!
Apa Itu Literasi dan Mengapa Literasi Bukan Hanya Soal Membaca Buku?
Menurut Oktariani dan Evry dalam jurnalnya yang berjudul The Role of Literacy in The Development of Critical Thinking Abilities, literasi merupakan kemampuan seseorang menggunakan potensi dan keterampilan dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan aktivitas membaca dan menulis. Melalui kemampuan literasi, seseorang tidak saja memperoleh ilmu pengetahuan tetapi juga bisa menggunakan ilmu pengetahuan dan pengalamannya untuk dijadikan rujukan di masa yang akan datang. Namun, nyatanya literasi tidak hanya soal membaca dan menulis, tapi juga soal memahami teknologi dan politik, berpikir kritis dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar.
Sebagaimana yang dikatakan Tavdgiridze (2016), literasi mencakup berbagai jenis keterampilan seperti membaca, menulis, memproses informasi, ide dan pendapat, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah. Tidak hanya membaca, terdapat enam jenis literasi dasar diantaranya literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewarganegaraan (Helaludin, 2019). Jadi, literasi nyatanya tidak hanya sebatas membaca buku, literasi bisa lebih kompleks dari itu.
Book Club Sebagai Cara Baru Menghidupkan Budaya Literasi
Book club (Klub Buku) merupakan salah satu cara efektif untuk menghidupkan kembali budaya literasi, khususnya di era modern seperti sekarang ini. Melalui kegiatan membaca bersama dan diskusi kelompok, book club dapat berpotensi menstimulasi minat baca, memperluas wawasan, dan membentuk komunitas yang solid. Dalam suasana yang nyaman, menyenangkan dan suportif, kegiatan membaca akan menjadi lebih menarik dibandingkan melakukannya seorang diri. Selain itu, diskusi juga akan mendorong anggotanya untuk menganalisis, mengevaluasi, dan merespon isi bacaan secara mendalam yang secara tidak langsung dapat mengasah kemampuan berpikir kritis.
Book club juga menjadi ruang berkumpul bagi individu dengan ketertarikan yang sama, mempererat hubungan sosial dan menciptakan rasa kebersamaan. Beragam jenis buku yang dibaca bersama dapat membuka pandangan baru dan memperkaya pengetahuan. Tak kalah penting, book club bisa menjadi alternatif hiburan yang sehat dibandingkan aktivitas digital pasif seperti doom scrolling. Dengan seluruh manfaat ini, book club layak dipertimbangkan sebagai solusi kreatif untuk menumbuhkan kembali semangat literasi di masyarakat dan membentuk generasi yang gemar membaca dan berpikir kritis.
Sebagai seseorang yang akan terus bertumbuh dan belajar, kita tahu bahwa literasi bukan hanya soal baca buku, tapi juga soal bagaimana kita bisa lebih peka, kritis, dan bijak menghadapi berbagai informasi yang datang setiap hari. Yuk, mulai implementasikan literasi dari kegiatan yang menyenangkan seperti ikut book club, diskusi buku bareng teman, atau sekadar berbagi insight yang kita dapat dari bacaan. At the end of the day, literasi bukan soal siapa yang paling banyak baca, tapi siapa yang mau terus belajar dan tumbuh bareng.
Penulis: Danis Ahnaf
Referensi:
• Bakti News. (n.d.). Apa itu information overload dan kenapa penting dipahami pekerja. BAKTI Kominfo. https://baktinews.bakti.or.id/artikel/apa-itu-information-overload-dan-kenapa-penting-dipahami-pekerja
• Helaludin. (2019). Peningkatan kemampuan literasi teknologi dalam upaya mengembangkan inovasi pendidikan di perguruan tinggi. Pendais, I(403), 44–55. https://jurnalp3k.com/index.php/J-P3K/article/view/11/pdf
• Tavdgiridze, L. (2016). Literacy competence formation of the modern school. Journal of Education and Practice, 7(26), 107–110.
• Ultimagz. (2021, April 27). Komunitas buku menghidupkan literasi. https://ultimagz.com/hiburan/literatur/komunitas-buku-menghidupkan-literasi/