The Problem of Positive Thinking
Kaizenkeepers, biasanya orang disekitarmu mengenal kamu sebagai orang yang pesimis atau optimis? Kalau belum yakin, coba tanya diri kamu sendiri apakah kamu lebih sering
berpikiran negatif atau berpikiran positif? Kalau kamu sering berpikiran positif berarti kamu biasa dikenal sebagai orang yang optimis; sebaliknya jika kamu sering berpikiran negatif kamu biasa dikenal sebagai orang yang pesimis. Wait, jangan berkecil hati kalau kamu orang yang pesimis, karena punya sikap pesimis itu tidak selamanya buruk loh. Eh? gimana tuh maksudnya?
A. Si Optimis
Ada sebuah artikel penelitian yang membahas fenomena berama toxic positivity, familiar
dengan istilah tersebut? atau baru dengar? Ayo kita kupas bersama fenomena tersebut. Dalam artikel penelitian dari Newsweek tersebut menyatakan bahwa sering berpikiran positif dapat mengganggu kesehatan mental kita, seperti depresi. Ketika seseorang terlalu sering berpikiran positif dia akan secara tidak sadar menyalahkan dirinya sendiri karena merasa merasa sedih atau frustasi ketika mengalami keterpurukan.
Dengan kata lain saat seseorang selalu berpikir positif, dia akan menempatkan dirinya pada sebuah skenario terbaik dalam sebuah situasi. Simplenya, berpikir positif itu membuat angan-angan dalam pikiran kita, kalau jadi kenyataan rasanya akan puas, dan menyenangkan, tetapi apa yang terjadi jika angan-angan tersebut selamanya menjadi angan-angan, alias tidak terwujud. Rasa kecewanya akan terasa digandakan, gagal ditambah hancurnya ekspektasi.
Berpikiran positif tentunya sebuah kebiasaan yang baik, bagaikan punya pelita yang menerangi ketidakpastian perjalanan hidup kita ini. Tetapi ibarat pelita yang bersumber dari api kecil, kalau semakin besar akan menyambar genggamanmu itu juga. Karena terkadang sesuatu yang terlalu banyak itu bisa berbalik menjadi musuh kita, sama halnya seperti berpikiran positif, terlalu banyak yang dapat menghambat proses dalam hidup kamu, tetapi dapat memberikan gambaran realistis terhadap suatu situasi.
Toxic positivity biasanya bisa dirasakan di kehidupan sehari-hari saat kamu sedang merasa pesimis tetapi orang disekitarmu merespon dengan “berpikir positif aja” atau “stay positive”, bisa juga dalam bentuk ajakan untuk selalu bersyukur dalam setiap keadaan,
walaupun dalam keadaan terburuk sekalipun, yang dapat menahan diri kita untuk merasakan realitas yang sebenarnya. Berdasarkan penjabaran sebelumnya, toxic positivity dapat dirasakan melalui tindakan yang dilakukan oleh diri sendiri atau dorongan dari orang lain, keduanya berdampak buruk terhadap kesehatan mental kalian. Lebih parah lagi kalau sampai mendiskredit perasaan orang lain yang sedang berpikiran negatif, seperti ‘Padahal belum mulai tapi udah pesimis aja' atau ‘Pikiranmu negatif mulu deh, coba positif thinking dulu’. Jadi apakah kita harus berpikiran negatif saja? Eits, kurang tepat. Jadi apa sih yang membuat
berpikiran negatif ini lebih baik dari berpikiran positif?
B. Si Pesimis
Tentunya berpikiran negatif membawa dampak buruk pada diri kita, bagaikan membangun tembok besar di tengah jalan tol, yaitu tidak ada artinya, menghambat, menghalangi. Dalam keadaan terburuk berpikiran negatif dapat mengganggu kesehatan mental kita juga. Tetapi
bagi mereka yang pintar mengelola emosinya hal ini dapat menjadi kunci harta karun
mencapai kehidupan yang damai dan keadaan mental yang stabil.
Orang yang cenderung pesimis atau berpikiran negatif dapat mengantisipasi diri mereka dari perasaan ‘kecewa’ atau ‘tidak puas’ karena pandangan mereka yang cenderung realistis. Seperti kebalikan dari angan-angan, si pesimis suka berpikiran tentang hasil yang realistis atau mengecewakan, yang diukur berdasarkan, misal; kemampuannya, dia secara tidak sadar
mengukur usahanya atau niatnya dalam mengerjakan atau menjalani sesuatu dengan hasil yang paling memungkinkan yang bisa dia dapatkan.
“Expect disappointment, so you wont be disappointed.”
— MJ from Spiderman: No Way Home
Menduga skenario terburuk, agar kamu tidak kecewa. Maksudnya itu berpikiran negatif
seperti membuat hasil dari skenario yang terburuk, agar kekecewaanmu tidak terlalu
menyakitkan karena kamu sudah punya gambaran hal terburuk yang akan terjadi.
Mental Contrasting
Karena semua hal yang terlalu banyak itu buruk, kita harus berada dalam keseimbangan
dalam berpikir, yaitu tidak terlalu sering berpikir positif dan juga tidak terlalu sering berpikir negatif. Itulah yang disebut Mental Contrasting adalah dimana pikiran menggabungkan visualisasi tujuan yang positif dengan evaluasi hambatan yang realistis, meningkatkan motivasi dan pencapaian tujuan. Teknik ini mendorong perencanaan yang dapat dipertanggung jawabkan dengan menghubungkan hasil yang diinginkan dengan upaya yang diperlukan dan potensi tantangan.
Dengan menerapkan mental contrasting seseorang dapat menghindari dari ekspektasi yang berlebih terhadap tujuan yang sedang dia usahakan, dan juga seseorang dapat menghindari kecenderungan meragukan diri sendiri atau situasi yang sedang dihadapi. Dengan begitu seseorang dapat dengan percaya diri mencapai tujuannya tetapi juga tidak mudah sakit hati atau kehilangan kepercayaan diri jika gagal. Pentingnya menyeimbangkan aspek positif dan negatif dari masa depan yang akan datang, seseorang dapat berjuang untuk mencapai tujuan sambil merencanakan secara realistis untuk menghadapi tantangan yang akan muncul di jalan menuju pencapaian tujuan.
Oettingen, Marquardt, dan Gollwitzer (2012) menemukan bahwa melakukan mental contrast dapat meningkatkan kreatif, inisiatif serta kinerja dalam tugas-tugas. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mental contrast dapat mempengaruhi perilaku untuk mencapai kinerja yang tinggi di berbagai bidang kehidupan, jenis tugas, dan konteks.
Penulis: Shafira Ryangga
Reference:
• Oettingen, G., Marquardt, M. K., & Gollwitzer, P. M. (2012). Mental contrasting turns
positive feedback on creative potential into successful performance. Journal of
Experimental Social Psychology, 48(5), 990–996. https://doi.org/10.1016/j.jesp.2012.03.008
• mental contrasting - Bing. (n.d.). Bing.
https://www.bing.com/search?pglt=931&q=mental+contrasting&cvid=0cab28067a84
45748c9fde1e56f43b4c&gs_lcrp=EgRlZGdlKgYIABBFGDkyBggAEEUYOTIGCA
EQABhAMgYIAhAAGEAyBggDEAAYQDIGCAQQABhAMgYIBRAAGEAyBgg