The Interconnectedness of Everything: Take Control Over Yourself!
Apakah KaizenKeepers pernah merasa sendiri, seakan-akan harus menjalani hidup dan menanggung semuanya sendirian? Terkadang stres karena ekspektasi orang lain dan kekecewaan karena realita yang tidak sesuai harapan bisa jadi pemicunya. Tapi, bagaimana kalau sebenarnya semua itu terjadi karena kita lupa satu hal penting: bahwa segala sesuatu di dunia ini saling terhubung?
Itulah salah satu poin yang ingin disampaikan Henry Manampiring dalam bukunya yang berjudul “Filosofi Teras”. Buku ini memperkenalkan pemikiran populer Stoicism kepada banyak orang lewat bahasa yang ringan dan relatable.
Kita Adalah Bagian dari Jalinan Besar
Dalam filsafat Stoa, hidup ini adalah satu kesatuan besar yang berjalan harmonis. Kita bukan entitas terpisah, tapi bagian kecil dari sistem alam semesta yang luas. Ibarat sel di dalam tubuh, kita terhubung dengan bagian-bagian lainnya, baik itu manusia lain, kejadian yang kita alami, bahkan kondisi alam.
Kesadaran ini membawa kita pada cara pandang baru terhadap hidup. Bahwa ketika sesuatu di luar kendali kita terjadi, kita tidak harus panik. Karena itu memang bagian dari jaringan besar yang tidak sepenuhnya bisa kita atur. Satu-satunya yang dapat kita atur adalah pikiran dan respons kita sendiri.
Stres dan Emosi yang Terkadang Salah Sasaran
Kita dapat merasa stres karena menuntut dunia untuk berjalan sesuai keinginan kita. Padahal, seperti kata Epictetus, penderitaan datang bukan dari peristiwa itu sendiri, tapi dari cara kita menilainya.
Misalnya, saat orang lain bersikap menyebalkan, kita mudah marah karena merasa mereka “mengganggu kedamaian” kita. Tapi Stoikisme mengajak kita berpikir, orang itu juga bagian dari dunia yang sama, sedang menjalani hidupnya dengan kondisi dan latar belakang yang mungkin tidak kita tahu. Jadi, daripada menghabiskan energi untuk marah, kita bisa memilih untuk mengerti dan tetap tenang.
Kita Tidak Hidup Sendirian
Filosofi Stoa juga menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kita terhubung satu sama lain, tidak hanya secara fungsional, tapi juga secara moral. Tindakan kita, sekecil apapun, berdampak pada lingkungan sosial kita.
Kalau kita bersikap baik, itu bukan hanya demi citra diri, tapi demi menjaga harmoni. Dan ketika kita menyakiti orang lain, itu juga berarti kita sedang merusak jalinan yang kamu sendiri berada di dalamnya.
Jalani Dengan Tenang, Bukan Pasrah
Menyadari bahwa semuanya saling terhubung bukan berarti kita pasrah dan tidak berusaha. Justru sebaliknya, kita jadi lebih bijak dalam memilih usaha mana yang layak diperjuangkan, dan mana yang lebih baik dilepaskan.
Dengan menerima bahwa kita hanya bagian kecil dari sistem yang besar, kita jadi lebih rendah hati. Tapi bukan rendah diri. Justru kita jadi punya kekuatan baru, kekuatan untuk tenang di tengah badai, dan bijak dalam menanggapi apapun yang datang.
Menyatu, Bukan Menyendiri
The interconnectedness of everything bukan sekadar konsep spiritual, tapi tentang cara hidup. Konsep ini mengajarkan bahwa kita tidak sendirian, kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar. Dan saat kita sadar akan itu, hidup akan terasa lebih ringan, dan kita bisa mulai berjalan dengan kepala dingin dan hati lapang.
Penulis: Danis Ahnaf
Reference:
Henry Manampiring (2018), Filosofi Teras—Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini.