The Hidden Cost of Worrying: A Stoic Lesson from Mariam Rashed
It All Starts with Fear
Mariam Rashed tidak pernah meminta untuk dibully. (Tokoh ini diambil dari serial Arab original Netflix: Alrawabi School for Girls). Dia tidak minta dipermalukan di depan sekolah, dikucilkan oleh teman-teman, atau dijadikan bahan pembicaraan di lorong-lorong sekolah. Namun semuanya terjadi. Lalu, seperti kebanyakan dari kita saat dunia terasa runtuh, pikirannya mulai kacau.
Cemas. Marah. Takut kehilangan kendali.
Di titik itulah Mariam berubah. Dari gadis biasa menjadi seseorang yang terobsesi untuk membalas. Kecemasan itu tumbuh menjadi dorongan untuk mengatur semuanya: merancang strategi, mengendalikan orang-orang di sekitarnya, dan memastikan rasa sakit itu dibayar lunas. Tapi pertanyaannya: apakah Mariam benar-benar memegang kendali? Atau justru pelan-pelan dia dihabisi oleh pikirannya sendiri?
When Fear Becomes a Battle
Rasa takut yang awalnya kecil bisa berubah menjadi perang batin yang besar. Mariam Rashed tidak hanya takut akan orang-orang yang menyakitinya. Dia mulai takut kehilangan kendali atas hidupnya sendiri. Kecemasan itu perlahan menggerogoti caranya melihat dunia.
Dia merasa harus melakukan sesuatu. Harus membalas. Harus mengubah posisi dari korban menjadi pemenang.
Namun inilah jebakan pertama dari kecemasan: ia membuat kita percaya bahwa kita harus mengontrol segalanya—orang lain, situasi, bahkan masa depan.
Dalam buku Filosofi Teras, Henry Manampiring mengangkat satu konsep penting dari filsafat Stoikisme: dikotomi kendali. Stoikisme mengajarkan bahwa hidup terdiri dari dua hal:
1. Hal-hal yang bisa kita kendalikan – seperti opini, respons, dan tindakan kita sendiri.
2. Hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan – seperti perilaku orang lain, masa lalu, dan kejadian eksternal.
Mariam terjebak di point kedua. Dia mencoba mengendalikan orang lain, yaitu merancang skenario balas dendam. Tapi seperti kata para filsuf Stoik:
“Semakin kita berusaha mengontrol yang tak bisa dikontrol, semakin besar penderitaan yang kita rasakan.”
Balas dendam adalah bentuk usaha untuk mengontrol hal-hal di luar kendali kita, terutama reaksi dan perasaan orang lain. Ketika kita membalas, sering kali ada harapan tersembunyi: agar mereka merasa bersalah, menyesal, atau “merasakan” apa yang kita rasakan dulu. Padahal, bagaimana orang lain merespons bukanlah sesuatu yang bisa kita atur.
Selain itu, balas dendam muncul dari keinginan untuk “memperbaiki” masa lalu—sesuatu yang sudah lewat dan tak bisa diubah. Kita seolah menaruh ketenangan batin pada hal-hal eksternal, berharap luka kita sembuh kalau orang lain mendapat balasannya. Padahal menurut Stoikisme, ketenangan hanya bisa dicapai saat kita fokus pada apa yang benar-benar bisa kita kendalikan: pikiran, respons, dan tindakan kita sendiri.
The Real Price of Overthinking
Di permukaan, kecemasan Mariam tampak seperti bentuk kekuatan. Ia mulai “bergerak”, merencanakan, melawan. Tapi di balik semua itu, ada harga yang tidak terlihat, dan justru paling berat.
• Emotional cost
Kecemasan menciptakan ilusi bahwa kita sedang memulihkan diri, padahal kita justru sedang terus membuka luka yang sama. Mariam tidak tenang, bahkan setelah ia mulai “mengatur permainan”. Dia gelisah, curiga, yang artinya dia kehilangan rasa damai dalam dirinya.
• Mental cost
Kecemasan membuat pikiran bekerja dua kali lebih keras. Ada kelelahan yang tidak terlihat. Pikiran yang terus-menerus waspada, menyusun rencana, memprediksi bahaya, yang padahal semua itu mungkin tidak akan pernah terjadi.
• Moral cost
Mariam memulai semuanya karena merasa benar. Namun dalam prosesnya, dia juga mulai menyakiti orang lain dan egois.
Dalam Filosofi Teras, ini disebut sebagai konsekuensi dari tidak membedakan apa yang baik dan buruk berdasarkan kendali pribadi. Saat kita kehilangan arah, kita cenderung membenarkan segala cara untuk menghilangkan rasa sakit. Padahal, justru itulah awal dari penderitaan yang baru.
Stoikisme mengajarkan bahwa ketenangan tidak didapat dengan membalas luka, tapi dengan mengubah cara kita memandangnya. Ketenangan lahir dari kesadaran bahwa kita hanya perlu mengurusi yang bisa kita kendalikan dan melepaskan sisanya.
A Reflection for All of Us
Mariam Rashed adalah cermin dari banyak dari kita, terutama saat hidup terasa tidak adil dan dunia tampak lepas kendali. Ia menunjukkan sisi paling manusiawi dari kecemasan: bahwa rasa takut bisa mendorong kita mengambil alih sesuatu yang bukan milik kita untuk dikendalikan.
Namun seperti yang diajarkan oleh para filsuf Stoik, dan dirangkum dengan lugas dalam Filosofi Teras, kita tidak harus selalu berperang. Kita tidak harus memenangkan semua pertarungan yang datang dari luar. Kadang, yang kita butuhkan hanyalah duduk sebentar, melihat ke dalam, dan bertanya:
"Apa yang sebenarnya bisa aku kendalikan?"
Kita bisa mengendalikan pikiran kita.
Kita bisa memilih untuk tidak membalas.
Kita bisa memilih untuk berhenti mencemaskan yang belum tentu terjadi.
Itulah makna dari ketenangan.
Dan itulah pelajaran terbesar dari Mariam—bukan tentang bagaimana cara membalas, tapi tentang apa yang dikorbankan ketika kita terlalu sibuk mengendalikan yang tidak bisa dikendalikan.
So, next time worry comes knocking, remember:
Peace doesn’t come from managing the world. It comes from letting go of the things you were never meant to control.
Penulis: Nabila Intan
Reference:
• Henry Manampiring (2018), Filosofi Teras—Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini.
• TrueCare2U (2025), The Hidden Cost of Overthinking: Why it Happens and How to Stop. Diakses pada 7 April 2025, dari: https://truecare2u.com.my/articles/the-hidden-costs-of-overthinking-why-it-happens-and-how-to-stop/?utm_source=chatgpt.com.
• Donald J Robertson (2025), Counting the Cost of Anger. Diakses pada 7 April 2025, dari: https://donaldrobertson.substack.com/p/counting-the-cost-of-anger.