Why We Should Give No F*ck About Things?

                 Source: Stockvault.net

Hari kita terkadang tidak berjalan sesuai dengan rencana, dan itu wajar. Bad day tidak membuat hidupmu berakhir, itu hanya akan memperkuat diri kamu di kemudian hari. It just a bad day, not a bad life! Sama halnya seperti kebahagiaan, terkadang hal yang membuat orang lain bahagia, tidak serta-merta dapat membuat kita bahagia juga. 

Semakin kita mencari arti dari kebahagiaan justru semakin jauh kebahagiaan itu dari genggaman. Terdengar tidak masuk akal tetapi kenyataannya kebanyakan orang mengalami mental draining karena terlalu fokus mencari arti kebahagiaan daripada merangkul manis dan pahit kehidupan itu sendiri. Ekspektasi yang dibentuk lewat social media mempengaruhi perspektif kita terhadap diri sendiri. Social media menciptakan sebuah ‘kebahagiaan’ idealis yang membuat kita merasa buruk akan keadaan kita. Arti sebuah kebahagian di zaman sekarang adalah segala sesuatu yang ‘lebih’. Lebih pintar, lebih cantik, lebih kaya, lebih, lebih, lebih, semuanya tentang menjadi lebih dari versi kita yang sekarang.

Ketika kamu tidak bisa mencapai ‘kebahagiaan’ tersebut, segalanya terasa buruk dan kamu mulai menyalahkan dirimu dan keadaan di sekitarmu, hidupmu yang sebenarnya biasa saja, bisa berubah menjadi neraka. Padahal tadi kamu sedang mencari makna dari kebahagiaan dan kenapa sekarang rasanya hidup jauh dari kebahagiaan? Dalam buku karya Mark Manson yang berjudul The Subtle Way Art to Not Give a F*kcs.

Ironically, this fixation on the positive—on what’s better, what’s superior—only serves to remind us over and over again of what we are not or what a lack, of what we should have been but failed to be.”

Dengan hadirnya social media sebagai pengingat bahwa kehidupan yang kita sedang jalani tidaklah sejalan dengan makna hidup idealis tersebut. Kehidupan yang kita jalani merupakan sebuah perjalanan panjang yang tidak mulus. Seperti membaca buku, setiap bagainnya memiliki bagian yang seru dan sedih sendiri, kita tidak akan selalu merasa bahagia. Tapi, berita baiknya, kita juga tidak akan selalu merasakan kesedihan.

Ketika kamu memfokuskan energi dan perhatianmu kepada segalanya, bahkan hal yang terkecil sekalipun, energimu akan habis pada hal yang tidak berarti, dan hal penting yang seharusnya lebih kamu pikirkan justru terbengkalai karena kamu tidak memiliki energi yang tersisa dalam dirimu. Kamu tidak bisa menyelesaikan tugas-tugas penting karena energi terkuras memikirkan hal-hal yang tidak penting, atau memikirkan tugas-tugasmu yang tidak terselesaikan itu.
Karena dari itu penting untuk kita bisa tidak peduli atau bodo amat-an pada hal-hal yang tidak layak mendapatkan atensi dan energi kita, sikap bodo amat-an ini bukan berarti kamu harus bodo amat-an sama kebutuhan dan tugas-tugasmu, tetapi sikap untuk memprioritaskan kemana dan kapan energimu harus dikeluarkan. Maka dari itu penting untuk kita bersikap bodo aman-dan, bersikap bodo amat itu seperti;


#1 Bodo amat-an berarti nyaman menjadi seorang yang berbeda. 

Dunia ini membuat kita takut menjadi individu yang berbeda, yang unik, selalu menekankan pada satu jenis individu yang mudah diatur, bagaikan dunia ini memaksa individu unik ini untuk masuk kedalam cetakan yang sudah dibuat. Konsekuensi bagi individu yang tidak memenuhi standar tersebut adalah ‘penolakan’, menyebabkan banyak orang yang berbeda dari masyarakat takut untuk menunjukan pesonanya yang tidak biasa itu.

Tetapi kita disini belajar bersikap untuk bodo amat-an, jadi ‘penolakan’ tersebut kita acuhkan saja, daripada mengorbankan jati diri kita yang ternyata dapat mendorong kita menjadi versi terbaik diri kita yang tidak diketahui siapapun. Kenyataannya tidak semua orang akan menyukai kita, rasa suka dan tidak suka tidak dapat kita kendalikan, yang dapat kita kendalikan adalah rasa takut kita dan cara kita menerima diri kita seperti apa adanya, dan bagaimana kita dapat menampilkan diri tersebut ke hadapan publik.


#2 Bodo amat-an dengan kesedihan, berarti harus lebih peduli sama yang hal lain selain kesedihan.

Berlarut-larut dalam kesedihan itu tidak baik. Semua energi yang ada dalam diri kita hanya fokus pada kesedihan dan ketidakberuntungan. Seperti yang disebutkan sebelumnya, energimu itu terbatas, maka fokuskanlah energi yang kamu punya untuk hal-hal yang penting. Harus diingat kalau prioritas setiap orang itu berbeda-beda, kebutuhan orang juga berbeda beda, jadi tentukan prioritas dan kebutuhanmu agar kamu bisa mulai mengontrol energi yang perlu dikeluarkan untuk sehari-hari. Misalnya hari ini kamu terlambat datang ke kampus, dari pada membuang energimu mengeluhkan kejadian yang telah berlalu, mengomel tentang macetnya jalanan, marah pada dirimu sendiri karena terlambat bangun, gunakan energi tersebut untuk menyerap materi kuliah yang masih bisa kamu dapatkan dalam kelas. 


#3 Kamu akan selalu memilih sesuatu yang kamu sangat pedulikan.

Setelah mengetahui prioritas dan kebutuhan, sekarang kamu jadi tahu kemana energi yang kamu keluarkan lebih berarti dari lainnya. Pada dasarnya kita secara tidak sadar akan mempedulikan hal yang penting untuk kita. Proses ini tidak hadir dalam otak kita begitu saja, seiring waktu berjalan otakmu mempelajari pengalaman dan keseharianmu, proses itu disebut ‘pendewasaan’. Banyak orang mencapai proses tersebut melalui jalan yang sulit, belajar dari kegagalan, kesedihan, kemarahan, kebencian. Semakin dewasa seseorang semakin sedikit juga energi mereka, maka dari itu semakin sedikit juga hal sepele yang mereka pedulikan.
 

Pentingnya mengelola energi kita dengan bijak. Alih-alih membuang-buang waktu pada hal-hal sepele, lebih baik kita mengarahkan perhatian pada apa yang benar-benar berarti. Menerima keunikan diri sendiri merupakan langkah penting, meskipun terkadang ada tekanan untuk beradaptasi dengan norma sosial.

Dengan memahami prioritas kita, kita bisa lebih produktif dan tidak terjebak dalam penyesalan masa lalu. Pertumbuhan seringkali datang dari tantangan yang kita hadapi, membuat kita lebih bijak dalam memilih apa yang patut kita pedulikan. Hal tersebut dapat mendorong kita untuk menjalani hidup dengan lebih seimbang—lebih sedikit memikirkan hal yang tidak penting dan lebih fokus pada apa yang benar-benar memberikan makna dan kebahagiaan.


Penulis: Shafira Ryangga Putri
 

Reference:
Manson, M. (2016). The subtle art of not giving a fuck. 


Popular posts from this blog

[Resensi Buku] Alpha Girl's Guide: How to Become a Smart, Independent, and Positive Girl

[Resensi Buku] Rich Dad Poor Dad: What The Rich Teach Their Kids About Money That The Poor And Middle Class Do Not!

[Resensi Buku] Stoikisme: Kunci Ketangguhan Mental Di Masa Kini