What If We Do Not Become Special and Extraordinary?
Menjadi seseorang yang luar biasa memang menyenangkan. Semua orang akan kagum, mereka akan repot-repot mengalihkan pandangan dan menyapa hangat. Ketika ditanyakan apakah mereka mengenalmu dengan baik, setidaknya mereka akan bilang, “yeah, we know each other,” meskipun kenyataan sebaliknya. Dengan semua keuntungan yang ditawarkan di depan mata, semua orang akan berlomba-lomba untuk menjadi hebat karena dengan begitu mereka bisa merasa usaha mereka membuahkan hasil. But, what if we do not become special and extraordinary? What if we are just random girls in their 20s without any privilege and achievement? Apakah itu berarti kita sudah terlambat untuk sebuah kesuksesan?
A. The Consequence Of Become Extraordinary
Dengan masifnya interaksi sosial media, menjadi seseorang yang biasa saja pada akhirnya merupakan standar kegagalan baru. Umumnya orang di internet jarang menunjukkan sisi manusiawi mereka karena ketika semua orang tahu bahwa mereka sama saja seperti kebanyakan orang, kemungkinan mereka sudah tidak terlihat menarik dan autentik lagi. Menurut penelitian oleh Vogel et al. (2014) membaca updates orang lain di sosial media akan memicu perbandingan sosial yang tidak disengaja dan spontan. Dalam buku The Subtle Art Of Not Giving A F*ck, Mark Manson menuliskan;
“Once you accept the premise that a life is worthwhile only if it is truly notable and great, then you basically accept the fact that most of the human population (including yourself) sucks and is worthless. And this mindset can quickly turn dangerous, to both yourself and others.” (Terjemah: Begitu Anda menerima premis bahwa hidup hanya berharga jika benar-benar luar biasa dan hebat, maka pada dasarnya Anda menerima fakta bahwa sebagian besar populasi manusia (termasuk Anda) payah dan tidak berharga. Dan pola pikir ini dapat dengan cepat berubah menjadi berbahaya, baik bagi diri Anda maupun orang lain.)
Mark percaya bahwa seseorang yang autentik dan luar biasa adalah seseorang yang terobsesi dengan perkembangan diri. Rasa obsesi tersebut timbul dari pemahaman bahwa ia tidak hebat sama sekali. They are ordinary, they are mediocre and they know they can be so much better. Di sisi lain, terdapat konsekuensi yang perlu dihadapi ketika seseorang termasuk ke dalam kategori extraordinary person. Akan ada standar-standar tidak manusiawi yang lingkungan sosial mereka terapkan. Terkadang bahkan dengan berupaya keras agar kita bisa menyatu dengan lingkar sosial tersebut, kita baru hanya akan sampai ke tahap average. Berada dilingkungan yang diisi oleh orang-orang luar biasa akan membuat mereka semua terlihat sama. Saya memiliki kutipan yang cocok untuk menjelaskan konsekuensi ini.
“You have to never get old, never be rude, never show off, never be selfish, never fall down, never fail, never show fear, never get out of line. It’s too hard, it’s too contradictory, and nobody gives you a medal or says thank you. And it turns out, in fact, that not only are you doing everything wrong but also everything is your fault.” (Terjemah: Anda tidak boleh menjadi tua, tidak boleh bersikap kasar, tidak boleh pamer, tidak boleh egois, tidak boleh jatuh, tidak boleh gagal, tidak boleh menunjukkan rasa takut, tidak boleh keluar jalur. Itu terlalu sulit, terlalu kontradiktif, dan tidak ada yang memberi Anda medali atau mengucapkan terima kasih. Dan ternyata, pada kenyataannya, Anda tidak hanya melakukan semuanya dengan salah tetapi juga semuanya adalah kesalahan Anda.) —Barbie (2024)
Menjadi extraordinary person juga tidak luput dari rasa insecure. Siapa yang bisa memastikan bahwa dengan berhasil meraih sesuatu yang luar biasa artinya kita sudah bisa dikatakan sukses? Apa dan siapa yang menjadi standar kesuksesan tersebut? Tidak ada yang tahu. Menjadi luar biasa maupun biasa saja akan membawa kita pada kecemasan yang sama apabila kita tidak pandai-pandai bersyukur.
B. The Consequence Of Become Ordinary
Tanpa perlu dituliskan sekalipun kalian pasti sudah tahu apa yang akan seorang mediocre alami dalam hidupnya. Bayangkan seorang perempuan/laki-laki di usia pertengahan 20 tahun, bekerja dengan gaji UMR atau bahkan kurang dari itu, belum menikah dan bahkan tidak memiliki pasangan, tidak memiliki hobi atau keahlian yang menyebabkan mereka belum memiliki pencapaian yang berarti. Hari-harinya akan dihiasi dengan rutinitas monoton yang membosankan, mereka juga sulit dikenali dan diakui. Di usianya yang seperempat abad, orang dengan pemikiran tradisional mungkin akan berpikir bahwa ia sudah terlambat untuk segalanya.
Disisi lain, rutinitas yang terasa membosankan mengindikasikan bahwa keseharian mereka cenderung lebih damai dan stabil. Mengejar kesuksesan besar akan terasa sangat melelahkan, belum lagi rasa selalu merasa tidak cukup dan tanggung jawab sosial untuk selalu menjadi unggul dan luar biasa, seorang mediocre tidak memiliki tekanan seperti itu. Beban sosial mereka mungkin akan sedikit lebih ringan. Pada akhirnya, definisi kebahagiaan bagi seorang yang biasa saja akan bergeser. Seiring berjalannya waktu, mungkin mereka akan lebih mendambakan keluarga kecil yang bahagia dibandingkan memiliki perusahaan multinasional. Pada akhirnya, extraordinary or just ordinary people like us, have their own definition of happiness and that's absolutely fine.
Jadi, bagaimana jika pada akhirnya kita tidak menjadi seseorang yang luar biasa? Jawabannya kami serahkan kepada KaizenKeepers. Tapi, tidak pernah ada kata terlambat untuk menjadi autentik versi Mark Manson; menjadi seseorang yang haus untuk mengembangkan diri. Ketika kita mengetahui bahwa menjadi average bukanlah sebuah kegagalan, kita akan lebih mengapresiasi hal-hal sederhana dalam hidup. Suatu saat nanti, kita akan menemukan ketenangan tanpa perlu membuktikan apapun, tidak perlu mencolok, tidak perlu menjadi sesuatu untuk bisa dicintai. Suatu saat nanti kita akan lebih siap untuk menjadi diri sendiri. And when the time is coming, I hope you are ready.
Penulis: Danis Ahnaf
Reference:
• Vogel EA, Rose JP, Roberts LR, Eckles K. Social comparison, social media, and self-esteem. Psychology of Popular Media Culture. 2014; 3(4):206-222. Doi: https://doi.org/10.1037/ppm0000047
• Manson, M. (2016). The Subtle Art Of Not Giving A F*ck.