Menghindari Jenuh dan Burnout saat Membangun Kebiasaan Positif

Sebagai individu muda, kita pasti memiliki banyak keinginan dalam segala aspek. Salah satunya menjadi individu yang lebih baik. Pendekatan yang dapat kita lakukan adalah pengembangan diri, dengan cara membaca buku, seminar, mendengarkan podcast dan menonton video motivasi. Sementara itu, dalam prosesnya kita sering merasa jenuh dengan kegiatan baru kita, sebab pada dasarnya kegiatan positif itu cenderung menjemukan. Ini sejalan dengan yang sempat dikatakan oleh James Clear dalam bukunya yang berjudul Atomic Habits, bahwa mempertahankan kebiasaan positif memang sangat sulit. Ada dua faktor, yaitu kita berusaha mengubah sesuatu tapi salah sasaran, dan kita berusaha mengubah kebiasaan dengan cara yang keliru.

Selain pada dua hal itu, jenuh dan burnout juga menjadi faktor mengapa kebiasaan positif yang baru tidak bertahan lama. Namun, untuk menghindari jenuh dan burnout, kita bisa menerapkan beberapa cara. Bisa dengan cara-cara yang dijelaskan di buku Atomic Habits, seperti Habit Stacking dan Temptation Building untuk meningkatkan motivasi dan melakukan perubahan perlahan. Well, akan kita bahas satu-persatu.


1. Menggunakan Habit Stacking

Habit stacking adalah metode menghubungkan kebiasaan baru dengan kebiasaan lama yang sudah terintegrasi dalam rutinitas kita. Maksudnya, kita mengaitkan kebiasaan baru dengan kebiasaan yang sudah ada, karena menurut James Clear, kebiasaan akan mudah terbentuk ketika dikaitkan dengan rutinitas yang sudah mapan.

Contohnya: Saya ingin membaca buku satu halaman dipagi hari, setelah rutinitas minum kopi.

Dengan cara ini, kita tidak perlu memikirkan waktu khusus untuk kebiasaan baru, karena sudah terjadwal secara otomatis.


2. Menerapkan Temptation Building

Temptation Building adalah membentuk kebiasaan dengan menggabungkan aktivitas yang perlu dilakukan dengan aktivitas yang diinginkan atau disukai. Menurut James Clear, strategi ini dapat meningkatkan motivasi dalam membentuk kebiasaan positif, sehingga dapat menghindari kejenuhan dan burnout. Konsep ini berasal dari teori manusia yang menyatakan bahwa kita cenderung melakukan sesuatu jika hal tersebut melibatkan aktivitas yang menyenangkan.

Contohnya: Mendengarkan podcast favorit hanya saat saya menyetrika pakaian.

Dengan cara ini, aktivitas yang membosankan akan menjadi menarik jika dihubungkan dengan aktivitas yang kita sukai.


3. Berfokus pada Identitas, Bukan Hasil

Dalam bukunya, James Clear menjelaskan bahwa fokus pada identitas yang ingin kita bangun lebih efektif daripada hanya mengejar hasil. Dalam konteks ini, identitas mencakup nilai-nilai, visi, misi dalam diri kita. Identitas memberikan makna yang bisa dikenang, sedangkan hasil hanya sementara. Perbandingannya seperti ini:
• Fokus pada hasil: Saya ingin kedai kopi saya terkenal dan laris.
• Fokus pada identitas: Kedai kopi saya ingin dikenal sebagai gabungan kedai kopi dan taman baca, ramah lingkungan tanpa asap rokok dan pelayanan yang ramah.

Terlihat perbedaannya bukan?

Identitas baru ini akan memotivasi kita untuk tetap konsisten karena itu menjadi bagian dari siapa kita. Pendekatan identitas membantu menciptakan konsistensi dan loyalitas.


4. Variasi dan Reward untuk Mengatasi Kebosanan

Salah satu penyebab burnout adalah kebiasaan yang monoton. James Clear menekankan pentingnya menjaga antusiasme dengan memberikan variasi dan penghargaan pada diri sendiri.

Variasi melibatkan perubahan atau penyegaran dalam aktivitas untuk menjaga kebaruan dan mencegah ke-monoton-an. Contohnya, mengubah pola. Jika mengerjakan tugas dari rumah terasa sudah memuakkan, kita bisa pergi ke perpustakaan atau kedai kopi terdekat, atau bisa dengan mengubah metode pengerjaan.

Reward adalah bentuk penghargaan yang diberikan untuk memotivasi dan memperkuat perilaku yang diinginkan. Kombinasi dari variasi dan reward dapat menciptakan siklus yang efektif untuk mengatasi kebosanan. Karena, dengan menambahkan elemen baru, aktivitas tetap menarik. Sedangkan reward memberikan motivasi untuk terus mencoba dan menghargai setiap usaha dan tiap pencapaian walaupun kecil.

Dengan cara ini, kita tetap merasa bersemangat dalam menjalani rutinitas.


5. Memberikan Ruang untuk Istirahat

Dalam membangun kebiasaan positif yang baru, kita tidak perlu terus menerus produktif setiap waktu. Menyediakan waktu untuk istirahat sangat penting untuk menghindari burnout. Selain itu, istirahat juga perlu untuk memulihkan energi, meningkatkan fokus dan menjaga kesehatan. Istirahat bukan hanya tentang berhenti bekerja, tetapi juga memberikan waktu untuk regenerasi tubuh dan pikiran agar tetap produktif dan sehat.

Membangun kebiasaan positif membutuhkan waktu dan kesabaran, tetapi kita bisa menghindari kejenuhan dan burnout, Kaizen Keepers. Bisa direalisasi dengan menerapkan strategi yang tepat. Mulailah dari langkah kecil, hubungkan dengan rutinitas yang sudah ada, dan jadikan prosesnya menyenangkan. Dengan konsistensi dan fleksibilitas, kebiasaan positif dapat bertahan lama tanpa menjadi beban.

James Clear menekankan pentingnya konsistensi daripada kesempurnaan. Jika kita melewatkan satu hari, jangan menganggapnya sebagai kegagalan. Ingatlah, yang penting adalah kembali melanjutkan kebiasaan sesegera mungkin.

Penulis: Intan Nabila


Sumber:
Clear, J. (2018). Atomic Habits; An Easy & Proven Way to Build Good Habits & Break Bad Ones. Hal. 30-36, 74-77, 223-226, 235-237.

Popular posts from this blog

[Resensi Buku] Alpha Girl's Guide: How to Become a Smart, Independent, and Positive Girl

[Resensi Buku] Rich Dad Poor Dad: What The Rich Teach Their Kids About Money That The Poor And Middle Class Do Not!

[Resensi Buku] Stoikisme: Kunci Ketangguhan Mental Di Masa Kini